This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Monday, November 8, 2010

Melindungi Pengungsi

Meluasnya lokasi daerah rawan bencana di seputar Gunung Merapi menimbulkan persoalan baru yang harus segera dipecahkan pemerintah daerah dan pusat. Radius bahaya yang diperluas menjadi 20 kilometer menyebabkan ledakan pengungsi di tempat-tempat penampungan serta eksodus sebagian warga Yogyakarta ke luar kota. Sampai akhir pekan, tercatat 203.568 warga menjadi pengungsi.

Kita mafhum, bahaya erupsi Gunung Merapi tidak hanya datang dalam bentuk awan panas (wedhus gembel), aliran lava panas maupun banjir lahar dingin, melainkan juga dari debu-debu yang keluar setiap kali gunung itu batuk. Hal-hal itulah yang coba dihindari sejumlah warga Yogyakarta dengan mengungsi ke rumah sanak kadangnya di kota lain.

Pekan lalu, harian ini pernah menurunkan laporan bahayanya jika debu atau abu vulkanik Gunung Merapi terhirup manusia. Disebutkan, 57 persen materi penyusunnya merupakan silika oksida (SiO2). Risiko infeksi saluran napas akut (ISPA) dan iritasi mata membuat sejumlah pakar kesehatan menekankan pentingnya penggunaan masker setiap kita keluar rumah. Soalnya, letusan dahsyat Gunung Merapi dan embusan angin ke barat membuat abu vulkanik Gunung Merapi terbang hingga Provinsi Jawa Barat. Beberapa wilayah Jabar yang terkena imbas abu Gunung Merapi seperti Kabupaten Ciamis, Kota Tasikmalaya, dan Kota Banjar, bahkan sampai mengalami kekosongan stok masker. Rupanya, prinsip mencegah lebih baik daripada mengobati itulah yang membuat sejumlah warga Yogyakarta memilih bermigrasi ke luar daerah.

Oleh karena itu, kita sangat prihatin dengan keadaan ratusan ribu pengungsi yang terpaksa tinggal di barak-barak pengungsian yang lokasinya masih dekat dengan Gunung Merapi. Mereka terpaksa hidup di bawah ancaman kerusakan saluran pernapasan. Selain itu, sebagian dari mereka juga terlambat atau bahkan tidak mendapat bantuan logistik dengan alasan tinggal di posko pengungsian tidak resmi.

Kita sangat menyayangkan adanya perbedaan perlakuan seperti ini dalam penanganan pascabencana. Resmi ataupun tidak resmi, di tempat-tempat penampungan itu berdiam juga saudara-saudara kita yang membutuhkan bantuan. Bagi mereka, tinggal di barak-barak pengungsian bukanlah pilihan. Oleh karena itu, membeda-bedakan bentuk pelayanan merupakan pengabaian yang tidak termaafkan dan pelanggaran hak asasi.

Dengan masih berlanjutnya erupsi Merapi, kita bisa memperkirakan jumlah pengungsi akan terus bertambah. Dalam kondisi darurat semacam ini, yang kita butuhkan adalah tempat-tempat penampungan baru yang lebih jauh dari lokasi bencana dan pengiriman bantuan logistik -- termasuk masker-- yang lebih banyak.

Tentu saja kita menuntut pemerintah pusat dan daerah untuk lebih lincah bergerak karena melindungi pengungsi adalah kewajiban negara. Tugas berat lainnya adalah membangun kembali permukiman warga yang rusak terkena bencana dan menjaga keamanan rumah-rumah yang ditinggalkan warga dari kemungkinan penjarahan dan aksi kejahatan lain.

Wednesday, November 3, 2010

Internet Sehat, Menyehatkan Internet

Untuk mengetahui merek apa saja yang ada di benak warga internet (netizen) di Indonesia, MarkPlus Insight melakukan riset lapangan mengenai perilaku dan kebiasaan mereka dalam menggunakan internet. Hasilnya, terpilih 45 merek favorit, salah satunya harian Kompas untuk kategori Koran lewat versi e-paper.

Riset menggunakan metode kuantitatif terhadap 1.500 responden usia 15-64 tahun yang tersebar di delapan kota besar, yaitu Medan, Palembang, Jabodetabek, Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar, dan Makassar. Juga digunakan metode wawancara yang dilakukan pada bulan September 2010.

Lebih dari sekadar menetapkan 45 merek pilihan, riset—yang menjadi bagian akhir dari rangkaian riset terhadap anak muda, perempuan, dan pengguna internet—menghasilkan banyak fakta mengejutkan seputar penggunaan internet di Indonesia.

Pendiri dan CEO MarkPlus Inc, Hermawan Kartajaya, dalam Marketeers Dinner Seminar "Marketing to Netizen", Rabu (27/10/2010) malam, mengungkapkan, satu dari tiga anggota keluarga telah terhubung ke internet. Fakta lain menyebutkan, delapan dari 10 netizen masuk ke dunia maya lewat ponsel.

"Hal ini didorong oleh perang tarif antaroperator seluler sehingga akses internet mobile bisa dijangkau banyak orang," demikian Hermawan. Selain itu, peredaran ponsel hingga 200 juta unit menjadi alasan lain besarnya penggunaan mobile internet.

Tingkat konsumsi responden untuk telekomunikasi dan internet termasuk tinggi. Mereka mengaku menghabiskan 3-5 jam sehari untuk berselancar di dunia maya, mayoritas untuk berinteraksi sosial lewat Facebook, Twitter, dan situs media sosial lain. "Sembilan dari 10 netizen menggunakan Facebook dan satu dari lima netizen memiliki akun Twitter," imbuh Hermawan.

Riset "Netizen Indonesia 2010" ini juga berhasil memetakan karakter psikografis netizen ke dalam tiga kelompok, yaitu negatif (37 persen), moderat (33 persen), dan positif (30 persen).

Sementara dari sisi kebiasaan berinternet, mayoritas responden masuk ke kelompok rata-rata (81,9 persen), yaitu kelompok pengguna yang sudah memliki akun dan meng-update status di media sosial. Hanya 4,4 persen netizen yang aktif membuat dan mengkreasi konten lewat blog, dan 13,6 persen lainnya termasuk netizen yang pasif atau hanya sebatas membaca konten yang ada.

Blekko, "Search Engine" Alternatif,

Search engine atau mesin pencari Blekko.com mulai dirilis dalam versi beta pada hari ini. Kehadirannya menjadi layanan alternatif selain Bing dan Google. Proyek ini disokong dengan pendanaan sebesar 24 juta dollar AS dan mulai dibangun sejak tiga tahun lalu.

Blekko mengklaim search engine ini didesain untuk mengeliminasi spam yang jamak muncul dalam hasil pencarian dengan memasang tanda slashtag atau garis miring dalam setiap kata pencarian. Misalnya saja /aikido, /beatles, /wow, /twilight maupun /zen. User juga bisa membikin slashtag untuk dicatat dalam topik yang nantinya terdaftar di Blekko, menjadi follower slashtag yang sudah tersedia, dan melihat statistik atas tulisan maupun data yang sudah di-crawl oleh Blekko. Tak hanya itu, Blekko juga mengidentifikasi berapa banyaknya tulisan atau data yang dobel alias terduplikasi.

Blekko memungkinkan penggunanya untuk memodifikasi kolom di sebelah kiri sesuai dengan kebutuhan. Bahkan terbuka bagi pengguna untuk membikin slashtag. Hanya saja, tetap mensyaratkan untuk login terlebih dahulu.

Blekko telah diuji coba dengan 8.000 orang yang membikin 3.000 slashtag yang berbeda. Tak kurang dari 11 persen existing user kembali menyambangi Blekko saban minggunya.

CEO Blekko Rich Skrenta dan pendiri Blekko Mike Markson tak memiliki target yang muluk-muluk dalam waktu dekat. Namun, keduanya percaya, bila situs yang mereka bangun ini mendapat kunjungan satu hingga dua juta kunjungan saban hari maka akan mampu meraup untung.

Menguji Hati Nurani

BENCANA alam yang terjadi hampir bersamaan di beberapa daerah, yakni gempa bumi yang disertai tsunami di Kepulauan Mentawai dan meletusnya Gunung Merapi di Yogyakarta-Jawa Tengah, telah meluluhlantakkan kawasan di sekitarnya. Terlebih, bencana itu menimbulkan ratusan korban tewas, luka-luka, serta hilang. Semua itu tentu sangat mencabik-cabik hati kita. Padahal, bencana besar lainnya, yakni banjir di Wasior, Papua Barat, belum lama berlalu.

Kita amat merasakan kedukaan itu. Betapa segenap pihak telah berupaya mewaspadai dan melakukan antisipasi, tetapi bencana itu ternyata datangnya lebih cepat. Tak ayal, korban berjatuhan dan kerugian materi yang cukup besar tak terhindarkan.

Namun, di balik peristiwa memprihatinkan itu, muncul berita tentang adanya sejumlah anggota DPR yang tetap melakukan kunjungan kerja ke luar negeri. Praktis para wakil rakyat menjadi sasaran kritik. Mereka dituding mementingkan diri sendiri dan tidak memiliki kepekaan terhadap penderitaan rakyat. Dengan logika sederhana, seharusnya mereka segera membatalkan atau memundurkan kunjungannya itu.

Melihat bencana yang demikian besar, hati nurani siapa pun patut terketuk. Tanpa diminta, kita harus berempati atas segala air mata, penderitaan, dan kesedihan yang ditimbulkan oleh ganasnya bencana. Oleh karena itu, penanganan bencana menjadi prioritas utama dan bersifat mendesak. Dengan demikian, segala bentuk kunjungan kerja anggota DPR ke luar negeri tidaklah perlu dilakukan.

Jika kemudian ada yang tetap berangkat di tengah terjadinya bencana, tentu program kunjungan kerja mereka harus dievaluasi total, baik dari segi efektivitas maupun kegunaannya. Evaluasi dimaksudkan agar kunjungan kerja benar-benar bermanfaat bagi bangsa dan negara.

Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) mencatat, biaya kunjungan kerja anggota dewan dan juga pemerintah mencapai triliunan rupiah. Padahal, besarnya biaya untuk kunjungan kerja itu tidak otomatis menghasilkan sesuatu yang dibutuhkan. Bahkan, banyak yang terkesan mengada-ada. Seperti kunjungan kerja ke Yunani yang sekadar mengetahui soal etika. Padahal, negara kita banyak mengajarkan etika.

Dengan segala kritik, akhirnya anggota DPR terketuk. Fraksi PAN memutuskan melarang seluruh anggotanya untuk melakukan kunjungan kerja dan studi banding ke luar negeri, baik di tingkat pusat (DPR) maupun DPRD. Begitu juga Partai Golkar dan Partai Gerakan Indonesia Raya secara terbuka melarang kadernya ke luar negeri. Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Kebangkitan Bangsa juga melakukan hal yang sama.

Kita patut menyambut baik sikap para wakil rakyat yang seperti itu. Meski belum menjadi sikap resmi fraksi masing-masing, penundaan atau pembatalan kunjungan kerja akibat adanya bencana, kiranya harus menjadi standar dalam bersikap. Sesungguhnya, kita tidak ingin menafikan pen-tingnya kunjungan kerja itu, tetapi rasa berempati terhadap sesama dan memupuk hati nurani yang berjiwa sosial jangan sampai terkikis oleh kepentingan-kepentingan sesaat.