This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label marketing dan bisnis. Show all posts
Showing posts with label marketing dan bisnis. Show all posts

Monday, January 30, 2012

Mengenal Waralaba atau Franchise

Sewa Ruang Kantor Jakarta Murah - Waralaba (Inggris: Franchising;Prancis: Franchise) untuk kejujuran atau kebebasan) adalah hak-hak untuk menjual suatu produk atau jasa maupun layanan. Sedangkan menurut versi pemerintah Indonesia, yang dimaksud dengan waralaba adalah perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak memanfaatkan dan atau menggunakan hak dari kekayaan intelektual (HAKI) atau pertemuan dari ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan oleh pihak lain tersebut dalam rangka penyediaan dan atau penjualan barang dan jasa.

Sedangkan menurut Asosiasi Franchise Indonesia, yang dimaksud dengan Waralaba ialah :

Suatu sistem pendistribusian barang atau jasa kepada pelanggan akhir, dimana pemilik merek (franchisor) memberikan hak kepada individu atau perusahaan untuk melaksanakan bisnis dengan merek, nama, sistem, prosedur dan cara-cara yang telah ditetapkan sebelumnya dalam jangka waktu tertentu meliputi area tertentu.

Selain pengertian waralaba, perlu dijelaskan pula apa yang dimaksud dengan franchisor dan franchisee.

  • Franchisor atau pemberi waralaba, adalah badan usaha atau perorangan yang memberikan hak kepada pihak lain untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang dimilikinya. 
  • Franchisee atau penerima waralaba, adalah badan usaha atau perorangan yang diberikan hak untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas yang dimiliki pemberi waralaba.

Sejarah Waralaba

Waralaba diperkenalkan pertama kali pada tahun 1850-an oleh Isaac Singer, pembuat mesin jahit Singer, ketika ingin meningkatkan distribusi penjualan mesin jahitnya. Walaupun usahanya tersebut gagal, namun dialah yang pertama kali memperkenalkan format bisnis waralaba ini di AS. Kemudian, caranya ini diikuti oleh pewaralaba lain yang lebih sukses, John S Pemberton, pendiri Coca Cola. Namun, menurut sumber lain, yang mengikuti Singer kemudian bukanlah Coca Cola, melainkan sebuah industri otomotif AS, General Motors Industry ditahun 1898. Contoh lain di AS ialah sebuah sistem telegraf, yang telah dioperasikan oleh berbagai perusahaan jalan kereta api, tetapi dikendalikan oleh Western Union serta persetujuan eksklusif antar pabrikan mobil dengan penjual.

Waralaba saat ini lebih didominasi oleh waralaba rumah makan siap saji. Kecenderungan ini dimulai pada tahun 1919 ketika A&W Root Beer membuka restoran cepat sajinya. Pada tahun 1935, Howard Deering Johnson bekerjasama dengan Reginald Sprague untuk memonopoli usaha restoran modern. Gagasan mereka adalah membiarkan rekanan mereka untuk mandiri menggunakan nama yang sama, makanan, persediaan, logo dan bahkan membangun desain sebagai pertukaran dengan suatu pembayaran. Dalam perkembangannya, sistem bisnis ini mengalami berbagai penyempurnaan terutama di tahun l950-an yang kemudian dikenal menjadi waralaba sebagai format bisnis (business format) atau sering pula disebut sebagai waralaba generasi kedua. 


Perkembangan sistem waralaba yang demikian pesat terutama di negara asalnya, AS, menyebabkan waralaba digemari sebagai suatu sistem bisnis diberbagai bidang usaha, mencapai 35 persen dari keseluruhan usaha ritel yang ada di AS. Sedangkan di Inggris, berkembangnya waralaba dirintis oleh J. Lyons melalui usahanya Wimpy and Golden Egg, pada tahun 60-an. Bisnis waralaba tidak mengenal diskriminasi. Pemilik waralaba (franchisor) dalam menyeleksi calon mitra usahanya berpedoman pada keuntungan bersama, tidak berdasarkan SARA.

Kategori waralaba berbeda-beda antara lain : franchise dalam bentuk makanan, pendidikan dan lain-lain. salah satu bentuk nya adalah  dan masih banyak lagi franchise yang berkembang di Indonesia ini.

Jenis waralaba
Waralaba dapat dibagi menjadi dua:

  1. Waralaba luar negeri, cenderung lebih disukai karena sistemnya lebih jelas, merek sudah diterima diberbagai dunia, dan dirasakan lebih bergengsi. 
  2. Waralaba dalam negeri, juga menjadi salah satu pilihan investasi untuk orang-orang yang ingin cepat menjadi pengusaha tetapi tidak memiliki pengetahuan cukup piranti awal dan kelanjutan usaha ini yang disediakan oleh pemilik waralaba.

Biaya waralaba
Biaya waralaba meliputi:

  • Ongkos awal, dimulai dari Rp. 10 juta hingga Rp. 1 miliar. Biaya ini meliputi pengeluaran yang dikeluarkan oleh pemilik waralaba untuk membuat tempat usaha sesuai dengan spesifikasi franchisor dan ongkos penggunaan HAKI. 
  • Ongkos royalti, dibayarkan pemegang waralaba setiap bulan dari laba operasional. Besarnya ongkos royalti berkisar dari 5-15 persen dari penghasilan kotor. Ongkos royalti yang layak adalah 10 persen. Lebih dari 10 persen biasanya adalah biaya yang dikeluarkan untuk pemasaran yang perlu dipertanggungjawabkan.

Waralaba di Indonesia

Di Indonesia, sistem waralaba mulai dikenal pada tahun 1950-an, yaitu dengan munculnya dealer kendaraan bermotor melalui pembelian lisensi. Perkembangan kedua dimulai pada tahun 1970-an, yaitu dengan dimulainya sistem pembelian lisensi plus, yaitu franchisee tidak sekedar menjadi penyalur, namun juga memiliki hak untuk memproduksi produknya . 


Agar waralaba dapat berkembang dengan pesat, maka persyaratan utama yang harus dimiliki satu teritori adalah kepastian hukum yang mengikat baik bagi franchisor maupun franchisee. Karenanya, kita dapat melihat bahwa di negara yang memiliki kepastian hukum yang jelas, waralaba berkembang pesat, misalnya di AS dan Jepang. Tonggak kepastian hukum akan format waralaba di Indonesia dimulai pada tanggal 18 Juni 1997, yaitu dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah (PP) RI No. 16 Tahun 1997 tentang Waralaba. PP No. 16 tahun 1997 tentang waralaba ini telah dicabut dan diganti dengan PP no 42 tahun 2007 tentang Waralaba. Selanjutnya ketentuan-ketentuan lain yang mendukung kepastian hukum dalam format bisnis waralaba adalah sebagai berikut:
  1. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI No. 259/MPP/KEP/7/1997 Tanggal 30 Juli 1997 tentang Ketentuan Tata Cara Pelaksanaan Pendaftaran Usaha Waralaba. 
  2. Peraturan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI No. 31/M-DAG/PER/8/2008 tentang Penyelenggaraan Waralaba
  3. Undang-undang No. 14 Tahun 2001 tentang Paten.
  4. Undang-undang No. 15 Tahun 2001 tentang Merek.
  5. Undang-undang No. 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang.

Banyak orang masih skeptis dengan kepastian hukum terutama dalam bidang waralaba di Indonesia. Namun saat ini kepastian hukum untuk berusaha dengan format bisnis waralaba jauh lebih baik dari sebelum tahun 1997. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya payung hukum yang dapat melindungi bisnis waralaba tersebut. Perkembangan waralaba di Indonesia, khususnya di bidang rumah makan siap saji sangat pesat. Hal ini ini dimungkinkan karena para pengusaha kita yang berkedudukan sebagai penerima waralaba (franchisee) diwajibkan mengembangkan bisnisnya melalui master franchise yang diterimanya dengan cara mencari atau menunjuk penerima waralaba lanjutan. 

Dengan mempergunakan sistem piramida atau sistem sel, suatu jaringan format bisnis waralaba akan terus berekspansi. Ada beberapa asosiasi waralaba di Indonesia antara lain APWINDO (Asosiasi Pengusaha Waralaba Indonesia), WALI (Waralaba & License Indonesia), AFI (Asosiasi Franchise Indonesia). Ada beberapa konsultan waralaba di Indonesia antara lain IFBM, The Bridge, Hans Consulting, FT Consulting, Ben WarG Consulting, JSI dan lain-lain. Ada beberapa pameran Waralaba di Indonesia yang secara berkala mengadakan roadshow diberbagai daerah dan jangkauannya nasional antara lain International Franchise and Business Concept Expo (Dyandra),Franchise License Expo Indonesia ( Panorama convex), Info Franchise Expo ( Neo dan Majalah Franchise Indonesia).
 

Tingkat pengembalian
Tingkat pengembalian yang layak dari sebuah waralaba adalah minimum 15 persen dari nilai.

Lain-lain

  • Di Indonesia waralaba yang berkembang pesat dan masih sangat menguntungkan adalah waralaba di bidang makanan (Wong Solo, Sapo Oriental, CFC, Hip Hop, Red Crispy, Papa Rons dan masih banyak merek lainnya). 
  • Waralaba berbentuk retail mini outlet (Indomaret, Yomart, AlfaMart) banyak menyebar ke pelosok kampung dan pemukiman padat penduduk.
  • Di bidang Telematika atau Information & Communication Technology , juga mulai diminati pada 3 tahun terakhir ini berkembang beberapa bidang waralaba seperti distribusi tinta printer refill/cartridge (Inke, X4Print, Veneta dll) , pendidikan komputer (Widyaloka, Binus) , distribusi peralatan komputer ( Micronics Distribution ) , Warnet / NetCafe (Multiplus, Java NetCafe, Net Ezy) , Kantor Konsultan Solusi JSI , dll.
  • Yang juga menguntungkan adalah waralaba di bidang pendidikan (Science Buddies, ITutorNet,Primagama, Sinotif) , lebih menarik lagi terdapat Sekolah robot ( Robota Robotics School ), taman bermain (SuperKids) dan taman kanak-kanak(FastractKids, Kids2success , Townfor Kids) , Pendidikan Bahasa Inggris (EF/English First, ILP, Direct English) dll. 
  • Perkembangan merek dan waralaba dalam negeri cukup pesat dan pada pameran pameran franchise di tanah air terlihat banyak merek merek nasional Indonesia bersaing dengan merek global dan regional.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Waralaba

Saturday, January 28, 2012

Keuntungan dari Bisnis Rumahan

Sewa Ruang Kantor Jakarta Murah - Banyak orang berpendapat, bahwa bisnis rumahan selalu identik dengan bisnisnya para ibu rumah tangga. Mengapa demikian? Sebab, sebagian besar pelaku bisnis rumahan rata-rata adalah ibu rumah tangga yang memutuskan menjalankan bisnis, setelah mereka berkeluarga dan memiliki anak. Para ibu tersebut memilih berbisnis dari rumah, agar mereka tetap bisa menjalankan bisnis tanpa harus melalaikan tugas utamanya mengurusi keluarga.

Sebenarnya, tidak hanya kaum ibu rumah tangga saja yang memanfaatkan bisnis rumahan untuk mendapatkan tambahan penghasilan keluarga. Banyak juga kaum pria yang belum mendapatkan pekerjaan, akhirnya mencoba peruntungan mereka dengan memulai bisnis kecil-kecilan dari rumah. Kebutuhan hidup yang semakin meningkat, menuntut masyarakat untuk lebih kreatif dan inovatif untuk mendapatkan penghasilan. Sehingga, membuka bisnis rumahan menjadi solusi bagi masyarakat luas, untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-harinya. Bahkan tidak sedikit orang yang menjadikan bisnis rumahan sebagai mata pencarian utama mereka. Karena omset yang dihasilkan dari bisnis tersebut cukup besar.

Menjalankan bisnis rumahan, tentunya memberikan banyak keuntungan bagi para pelakunya. Tak heran bila kini banyak masyarakat yang memilih bisnis dari rumah, dibandingkan menjadi seorang karyawan. Untuk mengetahui apa saja keuntungan dari bisnis rumahan, berikut info bisnis selengkapnya.

Tidak perlu modal besar. Menjalankan bisnis dari rumah, menjadi salah satu cara untuk menekan modal usaha dan biaya produksi. Karena Anda dapat memanfaatkan potensi rumah Anda sebagai sarana dan prasarana usaha, misalnya saja menjadikan teras rumah atau garasi sebagai lokasi usaha, menggunakan perabot rumah tangga sebagai peralatan usaha, serta memanfaatkan tenaga kerja dari keluarga. Bisa dibilang bisnis rumahan adalah bisnis modal kecil yang bisa dijalankan siapa saja.

Memudahkan pelaku usaha membagi waktu antara bisnis dan keluarga. Hal yang paling menguntungkan dari bisnis rumahan yaitu pelaku usaha bisa tetap mengawasi keluarga mereka disela-sela menjalankan bisnis. Bisnis rumahan lancar, keluarga juga tidak terabaikan. Hal itulah yang membuat bisnis rumahan banyak dipilih para ibu rumah tangga, guna mendapatkan tambahan penghasilan.

Bebas mengatur waktu kerja, karena bisnis rumahan sangat fleksibel. Memulai bisnis dari rumah, tidak mengharuskan Anda rutin tiap hari bekerja di luar rumah, layaknya jika Anda bekerja sebagai seorang karyawan yang harus ada di kantor dari jam 08.00-16.00. Jadi, Anda bisa menyesuaikan waktu operasional usaha dengan kepentingan pribadi Anda. Yang terpenting, usahakan untuk selalu disiplin dalam membuka dan menutup kegiatan usaha setiap harinya.

Memudahkan proses pengontrolan usaha. Menjalankan usaha di rumah, secara tidak langsung memudahkan Anda ilustrasi bisnis rumahan1 250x187 Keuntungan dari Bisnis Rumahan untuk turun langsung mengontrol jalannya usaha. Dari mulai proses produksi, kualitas produk, sampai penjualan produk. Dengan demikian Anda bisa mengawasi perkembangan bisnis yang Anda jalankan, secara langsung.

Memberikan kepuasan batin. Selain mendapatkan keuntungan berupa omset besar setiap bulannya, menjalankan bisnis rumahan juga memberikan kepuasan batin bagi pemiliknya. Sebab para pemilik usaha berhak menjadi pemimpin bagi bisnisnya sendiri.

Sumber : http://bisnisukm.com

Friday, January 27, 2012

Pentingkah Strategi Promosi Sebuah Produk?

Sewa Ruang Kantor Jakarta Murah - Jika ada pertanyaan “ Pentingkah strategi promosi sebuah produk? ” dapat dijawab dengan jelas bahwa strategi promosi sangat penting bagi penjualan sebuah produk. Kegiatan promosi bisnis merupakan bagian dari strategi pemasaran yang sangat dibutuhkan sebuah usaha, baik usaha kecil maupun usaha yang sudah berkembang besar. 

Sebelum mengetahui metode ataupun strategi promosi yang sering digunakan para pelaku bisnis, yang dimaksud dengan promosi adalah kegiatan pendukung strategi pemasaran yang sengaja diadakan untuk mengingatkan para konsumen mengenai produk atau jasa dengan brand tertentu. 

Strategi promosi sering digunakan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan permintaan atau penjualan barang dan jasa yang ditawarkan, sehingga dapat meningkatkan laba yang diperoleh. 

Selain itu kegiatan promosi juga memberikan kemudahan dalam merencanakan strategi pemasaran selanjutnya, karena biasanya kegiatan promosi dijadikan sebagai cara berkomunikasi langsung dengan calon konsumen. Sehingga kita dapat memperoleh informasi akurat dari para konsumen, mengenai respon produk yang kita tawarkan. Berikut beberapa manfaat lain dari adanya kegiatan promosi : 
  1. Mengetahui produk yang diinginkan para konsumen 
  2. Mengetahui tingkat kebutuhan konsumen akan suatu produk 
  3. Mengetahui cara pengenalan dan penyampaian produk hingga sampai ke konsumen 
  4. Mengetahui harga yang sesuai dengan kondisi pasaran 
  5. Mengetahui strategi promosi yang tepat kepada para konsumen 
  6. Mengetahui kondisi persaingan pasar dan cara mengatasinya 
  7. Menciptakan image sebuah produk dengan adanya promosi 

Untuk memperoleh manfaat dari strategi promosi, tidaklah mudah. Karena diperlukan beberapa kegiatan promosi yang dapat mendukungnya, kegiatan tersebut antara lain sebagai berikut :

Iklan ( Advertising )
Layanan iklan dapat mengenalkan produk kita kepada para konsumen, selain itu juga dapat membantu pembentukan image produk yang kita tawarkan. Sebaiknya gunakan iklan yang menarik dan mudah dimengerti oleh para konsumen. Iklan bisa melalui media massa ataupun media elektronik, misalnya dengan mengiklankan produk kita melalui televisi atau melalui majalah. Kemudahan promosi melalui iklan juga dapat dirasakan, dengan memasang iklan melalui media online yang lebih murah bahkan lebih sering gratis bila memasang iklan baris di beberapa website tertentu. 

Promosi penjualan ( Sales Promotion )
Adanya promosi penjualan dapat membantu meningkatkan penjualan dalam jangka waktu pendek, biasanya hanya selama kegiatan tersebut diselenggarakan. Promosi penjualan dapat dilakukan dengan cara memberikan hadiah gratis setiap pembelian produk dengan jumlah tertentu, memberikan sampel produk gratis kepada para konsumen untuk menarik minat mereka akan produk yang kita tawarkan, sehingga mendorong para konsumen untuk membeli produk atau jasa yang kita tawarkan pada saat kegiatan tersebut dilaksanakan. 

Penjualan perorangan ( Personal Selling )
Penjualan perorangan bertujuan untuk memberikan keyakinan dan pengenalan produk yang lebih dalam kepada para konsumen. Jadi para konsumen memperoleh informasi produk lebih detail, sedangkan para pelaku usaha juga dapat mengetahui respon para konsumen secara langsung. 

Hubungan masyarakat ( Public Relations )
Setelah image produk tertanam di hati para konsumen, hal penting yang harus dijaga adalah hubungan baik antara konsumen dengan perusahaan. Hal itu untuk menjaga kepercayaan yang telah diberikan para konsumen untuk produk kita, dan untuk melindungi image perusahaan ataupun produk. Dari pembahasan yang ada, dapat disimpulkan bahwa kegiatan promosi membantu perusahaan untuk menginformasikan suatu produk pada peluang pasar . Produk yang berkualitas pun akan sulit laku, jika tidak menggunakan kegiatan promosi yang dapat mengenalkan produk tersebut kepada para konsumen. Tentukan strategi promosi yang tepat bagi usaha Anda. Salam sukses.

Sumber : http://bisnisukm.com

Tuesday, January 17, 2012

Trik Supermarket Menguras Uang Belanja Konsumennya

Century 21 Broker Properti Jual Beli Sewa Rumah Indonesia dan Sewa Ruang Kantor Jakarta Murah - Inilah trik yang wajib diketahui oleh kita selaku konsumen sebuah supermarket ataupun bagi Anda yang sedang mencari ide Meningkatkan omzet penjualan produk / jasa di perusahaan Anda.


1. Merubah letak barang-barang secara berkala

Anda datang dengan daftar belanjaan… Itulah yang paling ditakuti para pengelola pasar swalayan. Tp ternyata mereka tidak kekurangan akal. Rotasi saja letak rak-rak secara berkala. Hal ini akan membuat anda harus mencari letak barang yang anda beli, saat anda mencari barang yang anda beli tentu saja anda juga harus melewati barang-barang lain, di sinilah pikiran anda mulai memanipulasi anda untuk membeli barang yang tidak anda perlukan karena terpengaruh tulisan “disc” dan “buy 1 get 1”


2. Memperbesar budget Anda

Anda datang dengan batasan tertentu “Hari ini saya Cuma boleh belanja Rp 300.000,00”, namun tentu saja anda tidak mungkin hanya membawa Rp 300.000,00 kan? Bahkan pada umumnya pembeli juga membawa ATM atau kartu kredit.

Bagaimana cara memperbesar budget anda? Ternyata mudah.. Gunakan harga yang tidak pas seperti Rp 12.890,00. Saat kita melihat satu harga seperti ini kita akan langsung sadar bahwa sebenarnya harganya adalah Rp 13.000, rupiah. Namun dengan banyaknya barang yang anda beli (dan seringkali untuk satu jenis tidak hanya satu), secara tidak sadar ketika menjumlahkannya anda akan membulatkannya menjadi Rp 12.000,00. Dan jangan heran ketika anda membayar anda kaget karena uang anda menjadi kurang.


3. Ubin ukuran 30 x 30

Mungkin anda sudah pernah berkunjung ke Ma**o ataupun Af**, harga mereka bersaing, pengunjungnya dulu juga banyak, tetapi mengapa mereka merugi? Jawabannya ada pada ubin mereka. Mereka menggunakan cor semen polos untuk lantai mereka. Hal ini menyebabkan para pengunjung yang berkunjung secara tidak sadar berjalan dengan cepat. Berbeda dengan pesaingnya semacam Hyper***, mereka menggunakan ubin ukuran 30×30, menurut riset inilah ukuran yang paling tepat untuk membuat para pengunjung memperlambat langkah mereka dan menengok kanan kiri, para pengunjung akan memperlambat langkah mereka karena mereka secara tidak sadar mengalami guncangan-guncangan karena roda troli mereka melewati sambungan ubin.


4. Tidak semua kasir aktif

Ini juga trik cerdik mereka. Dengan jumlah kasir yang sedikit akan mulai terjadi antrian, biasanya pengelola pasar swalayan mempunyai pedoman bahwa panjang antrian harus sejumlah 7-9 orang. Jumlah antrian ini akan membuat pengunjung merasa pusat perbelanjaan tersebut adalah pusat perbelanjaan yang ramai. Selain itu sambil mengantri mereka juga akan melihat-lihat etalase di samping kasir, antrian ini memperbesar kemungkinan mereka untuk membelinya.


5. Memajang snack dan permen di samping kasir

Ini trik tercerdik. Para pengelola memasang snack dan makanan kecil di samping kasir setinggi mata anak balita. Balita yang ikut mengantri dengan orangtua tentu akan sangat tergoda dan meminta kepada orangtuanya untuk dibelikan snack tersebut.

Monday, January 16, 2012

Stakeholdership

Sewa Ruang Kantor Jakarta Murah dan Century 21 Broker Properti Jual Beli Sewa Rumah Indonesia - Salah satu kekuatiran kita melawan market leader ataupun big brand adalah masalah anggaran Marketing Public Relations. Ada semacam anggapan bahwa dana mereka lebih besar. Baru saja kita membangun program skala kelurahan, kita merasa market leader langsung menyergap dengan program level kabupaten. Baru saja program intimasi konsumen tingkat jabotabek diumumkan, dalam pikiran kita big brand sudah langsung mengaktivasi brand value untuk konsumen skala nasional. Kita lari, mereka sudah naik sepeda. Begitu seterusnya, hingga kita kehabisan nafas, frustasi sendiri.

Ijinkan saya untuk sedikit berterus terang, sebetulnya, paragraf diatas adalah paham yang tidak benar.  Tepatnya, tidak lagi sepenuhnya benar.  Jauh sebelum krisis global, dimana merek-merek dipaksa untuk memangkas budget, sebetulnya sudah banyak merek-merek besar yang lebih menggunakan kecerdasan Marketing PR ketimbang jor-joran iklan. Alur pikirnya sederhana, untuk apa mereka mengambil lulusan terbaik anak negeri kalau tidak disuruh memeras otak untuk mengurangi biaya, tapi dengan dampak yang dahsyat?

Ijinkan saya juga, untuk berterus terang, karena sebetulnya dengan biaya sedikit, justru kompetitor tidak akan bisa meniru program kita. Biaya kecil memaksa kita untuk meningkatkan partisipasi target audiens. Dan bagaimana cara meningkatkan participations rate itu, adalah dapur kita.  Ada nilai stakeholdership yang tidak begitu saja bisa ditiru.

Yap, kata kuncinya adalah stakeholdership; bagaimana membangun rasa memiliki target audiens terhadap program yang menyongsong brand value kita. Bukan target audiens dalam arti sempit, tapi seluruh pemilik (stakeholder) jika program ini dikembangkan. Rumus dasarnya sama, bagaimana value merek kita bisa sejalan (syukur kalau bisa sinergi) dengan value dari target audiens. Perbedaannya pada aplikasi di lapangan, bagaimana agar target audiens yang merasakan mendapat manfaat dari value tersebut.  Nah, yang terakhir ini lah stakeholdership memegang peranan penting.

Kecil-kecil Cabe Rawit

Secara sederhana, stakeholdership berarti bagaimana menciptakan program yang mampu menciptakan sense of belongingness dari target audiens. Bagaimana menciptakan proses buy in pada saat program tersebut  dijalankan. Semakin tinggi rasa memiliki, akan semakin murah biayanya, dan semakin sulit untuk diambil alih oleh kompetitor.

Jangan salah, proses buy in tidak bisa dibuat dengan merchandise yang menarik, dan juga bukan karena kehebohan ataupun happening yang ada pada acara program tersebut.  Kalau kita memiliki dana besar, dua hal diatas adalah hal mudah. Tinggal cari merchandise yang lain dari yang lain, sewa event organizer yang paling kreatif, maka…sim sala bim….jadi lah sudah. Tapi apakah lantas target audiens lantas merasa memiliki? Apakah lantas kompetitor tidak bisa meniru?

Saat Body Shop menggelar program anti Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), dan membangkitkan animo perempuan kelas menengah untuk menorehkan petisi tanda tangan untuk menggolkan RUU Anti KDRT, rasanya sulit untuk ditandingi kompetitornya. Karena Body Shop menggali betul, dan menemukan bahwa KDRT juga terjadi pada perempuan kelas menengah atas. Dan Body Shop dengan cerdas menggali ketakutan dasar yang selama in tersimpan rapi dalam benak perempuan kelas menengah di Indonesia. Kalaupun Face Shop, ataupun merek lain akan membuat program serupa, mereka belum memiliki modal “ketekunan” dan “kecerdasan” untuk mendapatkan kebutuhan (mengatasi ketakutan) perempuan kelas menengah Indonesia terhadap KDRT.

Saat harian Republika mengembangkan program Citizen Journalism, dimana pembaca mendapatkan kesempatan untuk menjadi wartawan, maka sulit bagi media lain untuk membuat program yang sama.  Rasa haus pembaca untuk ikut merasakan sebagai wartawan, telah dipenuhi terlebih dahulu oleh Republika.

Sekarang pertanyaannya, apakah rangkaian program Body Shop dan Republika membutuhkan biaya besar? Jelas tidak, tapi partipasi target audiens tidak diragukan lagi. Dan yang hebat, baik saat konsumen Body Shop menandatangani petisi, ikut demo di bunderan HI, ataupun saat pembaca Republika mencari berita, mereka mengeluarkan biaya sendiri. Dengan kesadaran penuh. Itu lah stakeholdership.  Biar kecil, tapi menggigit, seperti cabe rawit.

K3

Salah satu pembelaan yang sering muncul dari dalam diri kita, saat melihat program-program kecil merek besar, adalah ini,” Ya jelas lah, mereknya sudah terkenal.”

Pembelaan yang tidak salah sebetulnya, sekalipun tidak sepenuhnya benar.  Inilah kebenaran yang saya temui di lapangan, dengan merek-merek besar tersebut; bahwa mereka memiliki ketekunan untuk memulai dari kecil. Dan itu bukannya tanpa hambatan.

Body Shop memulai Anti KDRT hanya dari diskusi kecil dengan Komnas Perempuan, Unilever menciptakan Green and Clean dari salah satu sudut kampung di Surabaya, Toyota memulai Toyota bercerita dari sebuah CD permainan yang sangat sederhana, XL memulai Indonesia Berprestasi Award hanya dari sponsor buku Menpora. Republika bahkan memulai Citizen Journalism dari keinginan untuk memberi ruang bicara bagi pembaca.

Bila sebagian besar program-program diatas sudah berjalan, dengan anggaran minim dari merek yang bersangkutan, maka itu berkat Ketekunan (mencari kebutuhan dasar konsumen), Keinginan (untuk memulai dari yang kecil), dan Kuantifikasi (setiap langkah yang ada pada tiap program).  Singkat saja dengan K3.

Mudah? Ehm, rasanya tidak.  Seringkali  yang penulis alami adalah sebaliknya, yaitu 3K. Kreativitas (yang hanya berdasarkan asumsi kosong, yang penting heboh), Kemegahan program (biar langsung nendang ke penjualan), dan Kuantifikasi semu (alias kira-kira mengenai dampak program).  3K ini memang lebih mudah, karena tidak perlu tekun, asal memiliki banyak budget, kegiatannya heboh, dan mudah-mudahan berdampak pada penjualan.

Sebetulnya, tidak ada masalah dengan 2K pertama, tapi K terakhir rasanya harus diganti menjadi kuantifikasi juga. Setiap program Marketing PR dijalankan, pada setiap tahapannya harus memiliki KPI tersendiri. Saat program diluncurkan, berapa mulut yang membicarakan, berapa kontak yang masuk ke hotline ataupun Customer Service, kemudian seberapa banyak peningkatan traffic di store, dan perbincangan online yang terjadi.  Semuanya harus terukur.

Dengan adanya pengukuran yang simultan, maka kerja Public Relations pun menjadi lebih diukur. Saat terjadi lonjakan sales, akan kelihatan berapa persen sumbangan Public Relations. Berikutnya, akan lebih mudah bagi kita untuk meminta manajemen meningkatkan anggaran.

sumber : http://www.marketing.co.id/

Sunday, January 15, 2012

Community Advertisement

Sewa Ruang Kantor Jakarta Murah dan Century 21 Broker Properti Jual Beli Sewa Rumah Indonesia - Menarik melihat pergerakan aktivasi brand community yang sedemikian pesat di Indonesia, hampir semua pelaku merek dengan sungguh ikut menceburkan diri di sana. Ada Nesvita yang memberikan tantangan kolesterol, kemudian ada SuperDad-nya Lifebouy, belum lagi tantangan Rinso buat para ibu-ibu Rumah Tangga.

Dan seperti halnya hukum Superioritas dan Inferioritas, maka selalu saja ada komentar begini,” I ya lah, itu kan pekerjaannya merek-merek besar yang duitnya tidak berseri.”.  Hal yang lebih menarik, diantara S dan I tadi, selalu ada Challenger yang mencoba mendobrak dominasi anggaran tinggi. Pertanyaannya jadi begini,” Bisa nggak kalau nggak pake iklan? Kenapa nggak langsung ke komunitas?.”

Maka, beberapa merek pun –mohon ijin untuk tidak menyebut nama- berbondong melakukan challenge tersebut. Mereka langsung ke komunitas. Dengan cara tradisional, alias kira-kira, dipetakanlah “komunitas-komunitas” yang mewakili target market mereka.

Ada yang memegang ibu-ibu arisan se-Jakarta. Alasannya masuk akal, ibu-ibu arisan kan ember, jadi begitu mereka tahu sesuatu pasti akan dengan cepat menyebar menjadi Word of Mouth.  Lantas, ada pula yang menempel ke ibu-ibu pengantar anak sekolah. Biar sesuai kelas sosialnya, dicarilah sekolah-sekolah menengah ke atas. Ternyata tidak mudah, karena yang mengantar kebanyakan sopir dan baby sitter-nya. Tapi untungnya dapat.

Lantas, seperti halnya promosi, mereka minta waktu ke ibu-ibu tersebut. Ada yang datang ke pertemuan arisan, kemudian mengumpulkan ibu-ibu pengantar sekolah di satu tempat, lantas menerangkan program yang akan mereka kembangkan. Tidak lupa, mereka pun memberikan goddy bag; sekedar ucapan terima kasih (dan harapan dalam hati bahwa ibu-ibu itu akan menularkan informasi ini ke ibu-ibu lainnya).

Setelah ditunggu-tunggu, ternyata dampak yang diharapkan tidak muncul. Ibu-ibu tadi begitu saja kembali ke acara mereka semula, yaitu ngerumpi. Tapi yang dirumpikan bukan program tadi, melainkan tetangga sebelah, suami mereka, atau artis-artis yang penuh dengan masalah.

Evaluasi pun dilakukan. Hasilnya? Pendekatan terhadap komunitas tidak efektif. Maka kembalilah para challenger itu ke pola lama; menggunakan iklan sebagai serangan udara awal untuk sebuah program.

Miss_Match Community

Ada satu proses miss_match yang terjadi, ketika  kita menggunakan pendekatan langsung terhadap komunitas. Di atas kertas, kita sering menganggap bahwa komunitas itu berbeda dengan publik ataupun masyarakat. Kita sadar betul bahwa komunitas memiliki kumpulan nilai tersendiri (yang berbeda dengan komunitas lain), pola komunikasi, dan panutan (reference people) yang berbeda juga. Singkatnya, komunitas memiliki proses pengambilan keputusan yang beda.

Tapi, pada saat kita melakukan upaya promoting, sosialisasi, ataupun diseminasi pesan, kita memperlakukan komunitas, seperti halnya target market pada umumnya. Kita datang, memberikan keterangan, kadang dengan permainan dan hadiah, tidak jarang membawa public figure. Hasilnya? Ya bisa ditebak, hampir pasti kejadiannya seperti di paragraf awal tadi.

Satu hal yang sering tidak kita pahami adalah bahwa kepercayaan terhadap komunitas itu muncul dari dalam, atau dari panutan-panutan mereka. Tantangannya, panutan-panutan mereka itu belum tentu public figure, tapi melainkan orang yang memiliki nilai-nilai sama dan sudah lebih lama menganut nilai-nilai tersebut.  Nah, jadi tantangannya sebetulnya bagaimana menjadikan orang dalam sebagai brand endorser. Atau, mencari panutan komunitas tersebut.

Hanya saja, memang butuh kecerdasan tersendiri sih, karena bukan berarti begitu menemukan, kita langsung bisa memintanya dengan memberikan sejumlah bayaran. Tidak semudah itu persoalannya. Kita mesti tahu betul, letusan-letusan informasi apa yang bisa membuat mereka menjadi bersemangat untuk berbagi.

Beberapa pernah mencoba melakukan dengan jalan pintas, dengan memberikan sejumlah uang setiap bulan, kemudian merchandise lengkap, plus fasilitas-fasilitas transportasi. Akibatnya? Sang endorser justru langsung dikucilkan oleh komunitas, karena tampak jelas sudah dibeli oleh merek yang bersangkutan.

Internalisasi Nilai

Jadi, berbeda dengan proses sosialisasi target market dimana energi dihabiskan di depan massa. Maka, pada komunitas, konsentrasi justru dikuatkan pada pembentukan brand endorser di dalam komunitas itu sendiri.  Termasuk meng-engineer tokoh panutan untuk menjadi brand endorser juga. Titik kuncinya hanya satu; bagaimana yang bersangkutan merasa bahwa informasi yang akan kita tularkan sesuai dengan internal nilai-nilai yang dianut. Kalau dirasa itu sudah ada, maka mudahlah pekerjaan selanjutnya. Bahkan tidak jarang sang brand endorser tidak mau dibayar, karena memang itu adalah tugasnya.

Nah, pada proses engineering ini lah diperlukan anggaran untuk melakukan advertisement komunitas. Kita memetakan kegiatan internal komunitas, kemudian melihat kapabilitas calon brand endorser, melakukan serangkaian rekayasa sosial kecil-kecilan untuk memastikan program yang tepat, dan (yang paling membutuhkan kesabaran) harus rela mengulangi dari awal kalau ternyata kita salah langkah.  Sensifitas komunitas sangat kuat terhadap pihak luar.

Anggaran ini relatif lebih besar jika dibandingkan dengan pendekatan komunitas konvensional, tapi jauh lebih murah dibandingkan dengan biaya iklan yang harus kita keluarkan. Maka, semisal kita ambil contoh paling ekstreem saja, untuk anggaran iklan 5 milyar, maka hanya dibutuhkan maksimal 2 milyar untuk mencapai efektivitas yang sama kuatnya.

Maaf, bahkan lebih kuat dari iklan. Karena dampak internalisasi nilai di komunitas adalah permanen. Daya lekat persuasinya jauh lebih kuat dibandingkan iklan yang harus terus melakukan re-claim setiap saat.

Persoalannya, berani kah kita merubah paradigma anggaran diatas? Saya harus terus terang, masih sedikit diantara kita yang berani. Karena belum pernah mengalami sendiri, kesannya jadi coba-coba. So, wajar kalau kemudian hanya merek-merek besar saja yang berani bermain disana. Perbedaannya bukan pada banyak tidaknya anggaran iklan, tapi pada keberanian kita untuk merubah pola pikir dalam melakukan diseminasi informasi.

sumber : http://www.marketing.co.id/

Saturday, January 14, 2012

Menciptakan Brand Mindset

Sewa Ruang Kantor Jakarta Murah dan Century 21 Broker Properti Jual Beli Sewa Rumah Indonesia - “Seluruh bangunan pabrik dan fasilitas Coca-Cola bisa saja terbakar besok pagi, tapi Anda akan sulit menyentuh nilai perusahaan. Sebenarnya semua terletak pada goodwill yang dimiliki franchisee merek kami dan pengetahuan kolektif yang dimiliki oleh perusahaan kami,” demikian pernyataan Roberto Goizueta ketika menjabat sebagai Presiden Direktur Coca-Cola. Pernyataan itu kemudian diperjelas oleh Johnson & Johnson, bahwa “Nama dan merek dagang perusahaan kami adalah aset kami yang paling berharga”.

Penguatan kedua pendapat itu juga dilontarkan oleh pengarang buku Counterintuitive Marketing, Kevin J. Clancy, yang menyatakan bahwa pemasaran merupakan pusat dari sistem bisnis. Merek menjadi inti dari segala hal tentang pemasaran. Tetapi, hasil penelitian  Kuczmarski dan Associates di Chicago, Amerika Serikat, menyimpulkan bahwa “merek” tidak diperlakukan sebagai aset strategis perusahaan.

Temuannya yang mengejutkan adalah lebih dari 60 persen perusahaan tidak memiliki rencana untuk melakukan kontingensi merek, 56 persen mengatakan tidak mengukur nilai merek, dan 33 persen tidak memiliki strategi formal jangka panjang. Dari gambaran tersebut, maka jelas bahwa pemasar harus mempunyai kemampuan untuk berpikir seperti sebuah  merek, atau harus mempunyai “brand mindset”

Untuk lebih gampang memahaminya, barangkali Anda bisa melihat bagaimana para pemasar di Indonesia begitu bangga ketika naik ke panggung untuk menerima pengakuan dari ajang IBBA, ICSA, Top Brand Award, dan lain sebagainya – tanpa berusaha menelusuri lebih jauh mengenai keakuratan ilmiah dari konsep dan metodologi yang dipakai. Konsep dan Metodologi bukanlah masalah serius yang ada di benak para pemilik merek sepertinya.

Dan, tak satu pun dari Anda yang tak mengenal Aqua. Terlepas dari apakah Anda mengonsumsinya atau tidak, setidaknya Anda tahu bahwa harga sebotol, atau segelas Aqua lebih mahal jika dibandingkan dengan harga produk-produk sejenis seperti Vit, Aquaria, Prestasi, padahal isinya sama persis. Tak ada satu konsumen pun yang bisa membedakan mana air Aqua, mana air Vit, atau mana air merek lain, apabila dikeluarkan dari selongsong merek yang tertempel dengan indah itu.

Di situlah pentingnya memahami makna ”brand mindset”, sehingga mampu menciptakan suatu merek yang ekuitas-nya tinggi. Jadi, seloroh yang menyatakan “apalah arti sebuah nama merek”, terjawab sudah. Jika ekuitas merek-nya tinggi, maka merek mampu memberikan efek psikologi yang menjadikan orang mampu membeli sebuah merek dengan harga yang lebih mahal, meskipun perbedaannya dengan merek lainnya hanyalah dalam bentuk emosi saja.

Benarkah hanya berbeda dalam bentuk emosi? Sejumlah merek air minum dalam kemasan adalah bukti dari merek yang tak lepas dari emosi. Contoh lain adalah emosi yang terkandung di dalam merek Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia. Banyak orang yang berpendapat bahwa sebenarnya produk keduanya sama, tetapi ditempeli merek yang berbeda. Kalau memang demikian, mengapa orang mau membeli Toyota Avanza lebih mahal daripada harga Daihatsu Xenia? Jelas sekali bahwa merek terkenal akan menghasilkan begitu banyak keuntungan perusahaan. Beberapa orang dengan sinis mengatakan bahwa tujuan dari pemerekan barang, atau jasa ialah untuk mengeruk banyak uang dari nilai yang sebenarnya.

Meski hanya sedikit yang memilikinya, tapi Anda semua tentu mengenal Harley Davidson. Harley Davidson adalah merek yang hebat, karena para pemilik sepeda motor ini jarang ada yang berpindah ke merek lain. Merek yang hebat dapat berfungsi lebih, karena mampu memberi warna dan getaran pada produk atau jasa yang dihasilkan.

Phillip Kotler, bapak pemasaran dunia, bahkan menyatakan bahwa merek yang hebat adalah jalan satu-satunya untuk mempertahankan laba di atas rata-rata secara terus-menerus. Merek hebat juga akan menghasilkan kekuatan emosional, bukan hanya keuntungan yang bersifat rasional. Merek yang hebat memang menitikberatkan pada sisi emosional, bukan rasional.

Russell Hanlin, Presiden Direktur Sunkist Growers mengatakan,”Sebuah jeruk tetaplah sebuah jeruk, kecuali jeruk itu adalah sebuah Sunkist, suatu nama yang dikenal dan dipercaya oleh 80 persen pemakan jeruk”.

Kotler mencatat salah satu tren dalam pemikiran dan praktik pemasaran bahwa banyak perusahaan mulai memilih untuk memiliki merek, daripada memiliki pabrik-pabrik. Dengan memiliki lebih sedikit aset fisik dan melakukan produksi melalui outsourcing, perusahaan-perusahaan seperti ini percaya akan mendapatkan hasil yang lebih besar.

Peran dan Fungsi Merek

Merek memegang peranan yang sangat penting, salah satunya adalah menjembatani harapan konsumen pada saat kita menjanjikan sesuatu kepada konsumen. Dengan demikian, dapat diketahui adanya  ikatan emosi yang tercipta antara konsumen dengan perusahaan penghasil produk melalui merek. Pesaing dapat saja menawarkan  produk yang mirip, tapi mereka tidak mungkin menawarkan janji emosi yang sama.

Oleh sebab itu, untuk membangun ikatan emosi yang kuat dengan pelanggan, langkah penting yang harus dilakukan oleh pemasar adalah membangun emosi yang relevan dengan pasar sasaran Anda, agar emotional brand bisa terwujud. Jangan mengecewakan konsumen dengan janji palsu, karena hubungan intim dengan konsumen berangkat dari kepercayaan yang berkesinambungan.

Merek menjadi sangat penting, karena beberapa faktor berikut: Pertama, emosi konsumen yang kadangkala turun-naik.  Merek mampu membuat janji emosi menjadi konsisten dan stabil. Kedua, merek mampu menembus setiap pagar budaya dan pasar. Bisa dilihat bahwa suatu merek yang kuat mampu diterima di seluruh dunia dan budaya, contohnya Coca-Cola.

Ketiga, merek mampu menciptakan komunikasi interaktif dengan konsumen. Semakin kuat suatu merek, makin kuat pula interaksinya dengan konsumen, dan makin banyak brand  association (asosiasi merek) yang terbentuk dalam merek tersebut. Jika brand  association yang terbentuk memiliki kualitas dan kuantitas yang kuat, potensi ini akan meningkatkan brand image (citra merek). Keempat, merek sangat berpengaruh dalam membentuk perilaku konsumen. Merek yang kuat akan sanggup mengubah perilaku konsumen.

Kelima, merek memudahkan proses pengambilan keputusan pembelian konsumen, karena itu terkait dengan kualitas, kepuasan, kebanggaan, atau atribut lainnya. Keenam, merek berkembang menjadi sumber aset terbesar bagi perusahaan. Menurut sebuah penelitian menunjukkan, Coca-Cola yang memiliki Stock Market Value (SMV) yang besar, ternyata 97 persen dari SMV tersebut merupakan nilai merek. Begitu pula nilai merek Kellogs berkontribusi 89 persen dari SMV-nya, dan pada IBM berkontribusi 73 persen  dari SMV.

Memang seiring berjalannya waktu, fungsi merek sudah semakin dipahami. Karena mereka sadar bahwa merek sangat berharga sekali. Hanya cara pengelolaan merek saja yang perlu dipelajari secara terus-menerus oleh para pemasar. Sehingga merek bukanlah semata-mata nama, tetapi ada nilai yang terkandung di dalamnya. Maka dari itu, buatlah konsumen mencintai merek Anda seterusnya, tanpa putus, dan rasakan bahwa Anda telah memiliki merek yang sungguh bernilai. Semuanya  bisa terwujud jika Anda mempunyai brand minset. Jadi, jangan sampai Anda termasuk orang yang tahu sedikit tentang manajemen merek, dan sebagian besar yang anda ketahui adalah salah!

sumber : http://www.marketing.co.id/

Laju pertumbuhan Bisnis Properti

Sewa Ruang Kantor Jakarta Murah dan Century 21 Broker Properti Jual Beli Sewa Rumah Indonesia - Salah satu peluang bisnis yang diperkirakan semakin bersinar terang di tahun 2012 ini adalah bisnis properti. Pertumbuhan ekonomi nasional yang terus membaik dan permintaan masyarakat yang semakin besar, membuat para pengembang properti semakin gencar memanfaatkan peluang pasar yang belakangan ini kian terbuka lebar.

Menurut para ahli di bidang properti, pada tahun 2011 hingga 2012 ini kebutuhan perumahan di Indonesia mengalami peningkatan yang cukup tajam hingga mencapai angka 1 juta unit rumah per tahunnya. Bahkan sampai hari ini sedikitnya terdapat 14 juta kepala keluarga atau sekitar 23%  dari total keseluruhan kepala keluarga di Indonesia yang belum memiliki rumah pribadi.

Disamping itu, angka permintaan konsumen kelas atas yang didominasi oleh sektor perhotelan, apartemen, perkantoran, ruko (rumah toko), serta rukan (rumah kantor) juga mengalami lonjakan cukup tinggi. Sehingga tidak heran bila siklus pergerakan peluang bisnis properti masih sangat menjanjikan dalam kurun waktu 5-7 tahun bekalangan ini.apartemen 200x138 Laju Pertumbuhan Bisnis Properti

Siklus atau laju pertumbuhan bisnis properti dimulai pada tahun 2010 silam, dimana tahun tersebut menjadi fase awal bagi pertumbuhan bisnis properti untuk mengawali puncak kesuksesannya. Tahun 2010 hingga tahun 2013 menjadi waktu yang paling tepat bagi para pengembang untuk membesarkan bisnisnya, karena konsumen mulai menaruh kepercayaan mereka di bisnis properti dan mulai membeli serta berinvestasi di sektor tersebut. Sedangkan pada tahun 2014 hingga 2015 yang akan datang, diperkirakan menjadi fase booming properti, dimana harga produk properti akan mengalami stagnasi dan menjadi moment booming kedua setelah terjadinya krisis moneter pada tahun 1998 lalu.

Dan dibalik semua data tersebut, ditemukan sebuah fakta bahwa saat ini pemerintah hanya mampu memenuhi kebutuhan rumah sederhana sehat sebanyak 50.000 unit/ tahun dengan kisaran harga Rp 80 juta ke bawah untuk seriap unitnya. Selebihnya ditangani oleh peran swasta yang sekarang ini baru bisa menyediakan tempat hunian sekitar 30.000 unit per tahun dengan harga yang cukup beragam. Jadi, bisa dipastikan bila peluang pasar bisnis properti masih sangat terbuka lebar, sehingga para pemula memiliki celah yang cukup besar untuk ikut terjun meraup untung puluhan juta rupiah dari perkembangan bisnis properti.

sumber : http://bisnisukm.com

Friday, January 13, 2012

Bisnis Properti Di tengah Ketatnya Persaingan

Sewa Ruang Kantor Jakarta Murah dan Century 21 Broker Properti Jual Beli Sewa Rumah Indonesia - Kondisi perekonomian Indonesia yang terus membaik dan didukung pertumbuhan penduduk yang masih cukup tinggi, menjadikan kebutuhan perumahan di Indonesia semakin meningkat tajam pada tahun-tahun belakangan ini. Bahkan menurut hasil pengamatan para pakar di bidang properti, diprediksikan kebutuhan hunian (rumah) pada tahun 2011 hingga 2012 bisa mencapai 1 juta unit rumah per tahunnya. Peluang inilah yang bisa Anda manfaatkan sebagai ladang bisnis baru yang tentunya menjanjikan untung puluhan juta rupiah setiap bulannya.

Saat ini peluang bisnis properti memang semakin terbuka lebar dan menjanjikan keuntungan yang cukup besar. Tidaklah heran bila sekarang ini banyak orang yang berlomba-lomba mengembangkan bisnis properti, baik sebagai pelaku bisnis agen properti, melayani jual beli rumah, maupun investasi dalam bentuk tanah. Lalu, apakah Anda tertarik mendapatkan untung jutaan rupiah dengan menekuni bisnis di bidang  properti?

Mari kita bahas bersama mengenai beberapa poin penting yang perlu Anda perhatikan dalam menjalankan bisnis properti.

Konsumen
Pada dasarnya hampir setiap orang membutuhkan tempat hunian, baik dalam bentuk rumah, tanah, kantor, kios, pabrik, maupun tempat usaha lainnya yang memiliki lokasi cukup strategis. Hal inilah yang menjadikan segmen pasar Anda cukup luas, bisa membidik masyarakat menengah ke bawah untuk menawarkan solusi rumah sederhana, membidik konsumen pengusaha untuk menawarkan gedung perkantoran maupun kios pertokoan, serta membidik kalangan menengah atas untuk menawarkan apartemen atau perumahan mewah di kawasan elit seperti real estate.

sumber : http://bisnisukm.com

Simbol Kesuksesan

Sewa Ruang Kantor Jakarta Murah dan Century 21 Broker Properti Jual Beli Sewa Rumah Indonesia - Di benak semua orang, kesuksesan seseorang biasanya diukur dari sisi finansial. Kalau Anda sukses dan punya uang banyak, Anda barangkali akan membeli barang yang tidak mudah dimiliki oleh setiap orang. Barang-barang tersebut menjadi lambang kesuksesan yang tentunya layak dipamerkan.

Dalam sebuah kelompok masyarakat, biasanya memang terdapat simbol-simbol yang menunjukkan kesuksesan seseorang. Berlian, fashion, mobil, gadget, dan kondominium adalah produk yang bisa menjadi simbol sukses. Umumnya memang produk-produk premium yang dijadikan ukuran. Di negara-negara yang sudah sangat maju, kapal pesiar dan jet pribadi adalah simbol lain yang menunjukkan kesuksesan.

Dari semua simbol, mobil adalah bentuk yang paling mudah dan paling banyak dijadikan ukuran. Semakin mahal mobilnya, maka orang tersebut terlihat semakin sukses. Padahal, harga jual kembali mobil yang mahal  justru sering kali lebih turun ketimbang mobil menengah ke bawah. Namun image mereklah yang membuat mobil tersebut tampak mewah. Wajar saja harga jualnya jatuh karena untuk orang-orang kaya, harga jual kembali bukanlah faktor terpenting.

Simbol-simbol sukses pun ternyata ada masanya. Pada zaman dulu, kesuksesan diukur dari jumlah dan jenis ternak yang dimiliki. Sapi adalah simbol sukses seseorang. Semakin maju ekonomi, simbol sukses juga berubah. Dalam masyarakat yang ekonominya masih lemah seperti petani, motor sudah dijadikan ukuran kesuksesan, karena orang lain mungkin masih banyak yang menggunakan sepeda. Dengan semakin tingginya kesejahteraan masyarakat, konsumen selalu mencari-cari simbol sukses baru pada produk lain.

Di Indonesia, dua contoh produk yang menjadi tren simbol sukses oleh orang awam adalah Nokia Communicator dan Toyota Alphard. Kalau sudah menggenggam Nokia Communicator terbaru, kita lebih terlihat sebagai karyawan yang sukses. Ada beberapa perusahaan yang sampai mengganti semua handphone para direksinya dengan Nokia Communicator baru. Ini dilakukan untuk “jaim” (jaga image). Jangan sampai bos tampak kalah keren dengan manajernya. Kalau orang melihat direksi perusahaan menggunakan handphone model lama, itu artinya usahanya lagi “seret”.

Begitu pula, jika seseorang sudah memakai Toyota Alphard, maka dia bisa tergolong orang yang sukses. Mungkin karena banyak artis yang menggunakannya, maka orang kaya pun harus memakai mobil yang sama supaya terlihat glamor. Itulah sebabnya Alphard menjadi simbol kesuksesan.

Menjadikan produk kita sebagai simbol sukses adalah bentuk public relations yang bagus. Setiap orang pasti ingin terlihat sukses. Kalau produk kita menjadi simbol sukses, maka sebenarnya pekerjaan kita juga lebih ringan. Kita tidak perlu mengeluarkan banyak iklan untuk biaya promosi. Karena itulah merek-merek yang sangat premium cenderung memiliki biaya promosi yang sangat kecil. Selain target market-nya juga kecil, mereka sebenarnya sudah melihat bahwa pengaruh word of mouth lebih kuat ketimbang beriklan secara massal. Apakah Anda pernah lihat iklan Toyota Alphard? Lihatlah bedanya dengan mass product. Mereka harus beriklan mati-matian untuk meraih perhatian audiens. Makanya, posisikan merek Anda sebagai simbol sukses.

Pertanyaannya, apakah simbol sukses cuma monopoli produk-produk yang amat-sangat mahal? Ternyata tidak juga. Nokia Communicator bukanlah merek handphone termahal, tapi bisa menjadi tren kesuksesan. Toyota Alphard juga tidak berharga miliaran rupiah, tapi banyak yang mengangapnya lebih punya nilai sukses dibandingkan merek lain. Yang jelas, merek tersebut harus punya gengsi di mata orang yang melihatnya.

Ada banyak produk yang menampilkan orang-orang sukses di iklannya. Namun, karena produknya tidak bergengsi di mata konsumen—apalagi harganya juga bisa dijangkau oleh siapa pun, maka tidak bisa menciptakan public relations yang kuat. Untuk produk yang menjadi simbol sukses, word of mouth harus bekerja lebih kencang dibandingkan iklan yang jorjoran.

Pertanyaan kedua, apakah simbol kesuksesan secara finansial harus ditampilkan dalam bentuk materi? Mari kiat lihat sebuah survei di California, Amerika Serikat, yang menunjukkan bahwa lebih dari 70% orang di sana melihat kesehatan secara fisik sebagai lambang kesuksesan. Kalau di negara seperti di Indonesia, masih banyak yang melihat orang yang—maaf—“gendut” sebagai simbol sukses, ternyata di California sebaliknya. Fenomena ini sebenarnya juga menunjukkan bahwa angka kesejahteraan di Indonesia masih di kelompok bawah. Di negara makmur, obesitas (kegemukan) justru menjadi masalah setiap orang. Memiliki badan yang sempurna secara fisik barangkali menjadi sesuatu yang sulit dicapai. Hanya orang-orang sukses yang akhirnya bisa mencapainya.

Dari sini bisa kita simpulkan bahwa pada satu tingkat kesejahteraan tertentu, simbol sukses ternyata memang bukan terlihat dari materi, tetapi dari pola hidup. Survei ini diadakan di negara bagian California yang tergolong makmur, sehingga tidak mengherankan jika ukurannya mungkin sudah bukan materi lagi. Kesuksesan, misalnya, diukur dari bagaimana seseorang mengonsumsi kendaraan yang hemat energi ketimbang mempergunakan mobil yang boros bahan bakar. Orang dianggap lebih kaya dibandingkan yang lain dinilai dari bagaimana dia mengonsumsi barang-barang yang ramah lingkungan, sumbangannya terhadap komunitas tertentu, dan lain-lain.

Jadi, bersiap-siaplah pada saat pola hidup yang sehat dan dekat dengan lingkungan menjadi sesuatu yang begitu sulit dipenuhi di Indonesia. Produk Anda yang mengarah kepada kedua hal ini bisa menjadi sebuah simbol sukses! Masalahnya, apakah kita harus menunggu tingkat kesejahteraan kita mencapai seperti penduduk California, atau menunggu kondisi lingkungan dan kesehatan di negara kita benar-benar buruk sehingga keduanya menjadi komoditas yang hanya bisa diraih oleh orang-orang sukses?

sumber : http://www.marketing.co.id/

Strategi Pemasaran Bisnis Rumahan

Sewa Ruang Kantor Jakarta Murah dan Century 21 Broker Properti Jual Beli Sewa Rumah Indonesia - Memulai bisnis rumahan memang bisa dibilang cukup mudah, terutama dalam hal modal usaha. Karena peluang bisnis ini bisa dimulai dengan modal kecil, dari memanfaatkan potensi yang ada di rumah untuk menekan biaya produksi. Namun, kemudahan dalam memulai bisnis ini, berbanding terbalik dengan kendala sulitnya pemasaran bisnis yang sering dihadapi pelaku usaha. Padahal, bisa dikatakan pemasaran bisnis adalah kunci utama sebuah usaha untuk berkembang mencapai kesuksesannya.

Tak bisa dipungkiri bahwa sebuah bisnis tidak akan bertahan lama, tanpa adanya strategi pemasaran. Begitu juga dengan bisnis rumahan, walaupun Anda menjalankan bisnis kecil-kecilan dari rumah. Tapi bukan berarti Anda tidak membutuhkan strategi pemasaran untuk mengenalkan bisnis Anda kepada masyarakat luas. Lalu, bagaimana strategi  pemasaran produk bisnis rumahan yang paling tepat?

Memasarkan produk bisnis rumahan bisa Anda mulai dengan mempromosikannya dari mulut ke mulut. Cara  yang mudah, murah dan sangat efektif ini bisa dimulai dengan menginformasikan keberadaan bisnis Anda kepada keluarga besar Anda, para tetangga sekitar, maupun teman-teman dekat. Perkenalkan produk atau jasa Anda, disaat ada acara kumpul keluarga, atau pada waktu kegiatan arisan rutin. Agar konsumen mengetahui produk Anda, dan akhirnya tertarik untuk mencoba membeli. Dari pemberitaan “gethok tular” (dari mulut ke mulut), berita tersebut akan tersebar luas dengan waktu yang relatif singkat.

Selanjutnya Anda bisa menggunakan media iklan untuk menarik minat konsumen. Meskipun bisnis Anda terbilang kecil, dan hanya dilakukan di rumah. Tapi promosi dengan menggunakan media iklan, cukup penting untuk menarik minat konsumen. Untuk meminimalkan biaya, Anda bisa memilih promosi dengan memasang spanduk, banner, atau neon box di depan rumah Anda. Tuliskan nama usaha dan produk-produk yang Anda tawarkan di media tersebut. Jadi, masyarakat yang melewati rumah Anda bisa mengetahui keberadaan produk Anda. Selanjutnya Anda juga bisa membuat pamflet, kartu nama, dan brosur yang bisa Anda bagikan pada para konsumen.

Selain itu, Anda bisa memanfaatkan internet untuk membantu pemasaran produk. Kebanyakan pelaku usaha rumahan mengaku dirinya gaptek (gagap teknologi) dan tidak mau  belajar internet marketing. Padahal untuk memenangkan persaingan pasar, Anda pun harus selalu inovatif mengikuti perkembangan pasar. Cobalah untuk memperluas jangkauan pasar, dengan memasarkan produk rumahan secara online. Misalnya saja dengan membuat website, blog, atau memanfaatkan jejaring sosial seperti facebook dan twitter. Sudah banyak pelaku bisnis rumahan yang menerima permintaan produk dari luar negeri, karena bantuan internet. Sehingga tidak menutup kemungkinan, bisnis dari rumah pun bisa mengekspor produk ke pasar mancanegara.

Terakhir, untuk membantu pemasaran, Anda bisa membuka kerjasama keagen atau reseller produk. Ajak beberapa konsumen yang cukup potensial, untuk menjadi agen atau reseller produk Anda. Berikan potongan harga tertentu atau prosentase pembagian untung yang cukup menarik, pada konsumen yang ingin membantu pemasaran produk Anda. Cara ini memberikan keuntungan kedua belah pihak, baik konsumen maupun pelaku bisnis rumahan. Yang terpenting, jaga kualitas produk Anda. Agar konsumen juga tertarik dengan produk yang Anda tawarkan.

Cobalah untuk menggabungkan beberapa strategi pemasaran yag telah kita bahas, dan jaga kualitas produk yang Anda tawarkan. Ini akan membantu konsumen untuk mengenal dan mengingat produk bisnis rumahan Anda. Selamat mencoba dan salam sukses.

Strategi Pemasaran Untuk Memperluas Bisnis Jamur

Sewa Ruang Kantor Jakarta Murah dan Century 21 Broker Properti Jual Beli Sewa Rumah Indonesia - Memutuskan terjun kedalam dunia bisnis memang bukan perkara mudah. Tingginya tingkat persaingan bisnis dan banyaknya pelaku usaha sejenis, membuat sebagian besar pelaku usaha harus berpikir keras untuk memberikan nilai lebih kepada para konsumennya dan terus berinovasi untuk memenangkan persaingan pasar. Hal ini pula yang saat ini dialami para pelaku bisnis jamur dalam menjalankan usahanya. Tingginya minat pasar dan banyaknya jumlah pelaku usaha jamur di pasaran membuat persaingan antar pelaku bisnis semakin hari semakin ketat.

Karena itu untuk membantu para pelaku usaha jamur dalam memasarkan produknya, berikut kami informasikan strategi pemasaran untuk memperluas bisnis jamur.

    * Penetrasi Pasar

Penetrasi pasar merupakan langkah pertama yang bisa Anda gunakan untuk memperluas pangsa pasar yang sudah ada. Strategi ini bisa Anda lakukan melalui promosi produk jamur secara besar-besaran, sehingga pelanggan tetap Anda bisa mengkonsumsi jamur dengan jumlah yang lebih besar, dan menarik minat konsumen lainnya untuk lebih memilih produk jamur Anda dibandingkan produk milik kompetitor. Dalam menjalankan strategi ini yang terpenting adalah jaga kualitas jamur yang Anda hasilkan, dan berikan harga yang sesuai dengan target pasar yang telah Anda tentukan.

    * Pengembangan Pasar

Selain melakukan berbagai strategi pemasaran produk untuk melakukan penetrasi pasar, Anda juga bisa merambah pasar baru untuk memperluas jangkauan yang sudah dimiliki. Dalam hal ini Anda bisa memperluas jaringan distribusi jamur ke daerah-daerah lain yang belum dijangkau pesaing Anda. Misalnya saja dengan melakukan ekspor jamur ke pasar internasional atau memasarkannya ke berbagai penjuru kota dimana banyak warung makan maupun restoran kelas atas yang mulai memanfaatkan jamur sebagai bahan baku utama masakan mereka.

    * Pengembangan Produk

Selanjutnya para pelaku bisnis jamur juga bisa mengembangkan produk utama mereka menjadi berbagai macam produk baru yang memberikan nilai lebih kepada para konsumen. Jadi Anda tidak hanya menjual jamur segar saja, namun mulai berinovasi dengan menciptakan aneka macam produk baru dari hasil olahan jamur. Misalnya saja dengan mengembangkan hasil budidaya jamur tiram menjadi produk olahan jamur, seperti keripik jamur tiram, jamur crispy, sate jamur, burger jamur, serta masih banyak lagi produk baru lainnya yang bisa Anda ciptakan. Sehingga jangkauan pasar yang Anda miliki bisa semakin luas, dan tingkat loyalitas konsumen pun setiap harinya kian meningkat.

    * Diversifikasi Produk

Disamping melakukan pengembangan produk, Anda juga bisa melakukan pemasaran bisnis jamur melalui strategi diversifikasi untuk menarik minat pelanggan baru. Contohnya saja dengan mengadakan pelatihan budidaya jamur, membuka paket wisata agrobisnis jamur, atau membuka restoran serba olahan jamur sebagai salah satu cara untuk memperkuat brand produk Anda di tengah ketatnya persaingan pasar. Strategi ini penting untuk meningkatkan minat konsumen terhadap produk jamur sendiri, serta mengarahkan mereka untuk lebih mengenal manfaat dari jamur, sehingga diharapkan konsumen semakin gemar mengkonsumsi jamur setiap hari.

Gunakan kreatifitas Anda untuk memberikan inovasi baru bagi para konsumen, sehingga bisnis jamur yang Anda jalankan bisa berkembang besar dan banyak dikenal orang. Semoga informasi seputar strategi pemasaran bisnis jamur ini bisa bermanfaat bagi para pembaca, dan membantu para pelaku bisnis jamur dalam memasarkan produk-produknya. Selamat berkarya, teruslah berusaha dan salam sukses.

Penyebab Kegagalan Membangun Customer Database

Sewa Ruang Kantor Jakarta Murah dan Century 21 Broker Properti Jual Beli Sewa Rumah Indonesia - Saya yakin, kita akan segera memasuki era di mana pelanggan menginginkan komunikasi dua arah. Mereka akan semakin tidak responsif dengan cara-cara komunikasi tradisional seperti iklan melalui media konvensional. Para marketer akan berhadapan dengan pelanggan yang ingin suaranya didengarkan. Mereka menyambut baik perusahaan yang menyediakan komunikasi dua arah dan semakin personal.

Pelanggan juga menginginkan komunikasi di mana mereka mempunyai kemampuan untuk mengontrol. Mereka ingin menjadi pelanggan yang mempunyai kekuasaan dan kebebasan mengatur dirinya kapan harus berkomunikasi.

Cara berkomunikasi dan media yang digunakan akan semakin beragam. Di masa mendatang akan muncul pululan—atau bahkan ratusan—cara dan pemilihan media untuk berkomunikasi. Revolusi teknologi internet dan seluler akan menjadi pendorong utama tersedianya alternatif baru ini.

Tidak mengherankan jika Integrated Marketing Communications (IMC) kemudian mendapatkan tempatnya yang sangat penting bagi pelaku bisnis. Seperti yang telah banyak saya tulis di kolom ini pada edisi sebelumnya, IMC akan mengalami beberapa fase, tergantung dari kesiapan dari perusahaan dan industri yang mereka masuki. Pada fase pertama, perusahaan akan berupaya untuk mengintegrasikan pesan-pesan yang disampaikan kepada pelanggannya. Baik iklan di media elektronik, media cetak, below the line, call center, desain interior, dan lain-lain haruslah memiliki pesan yang konsisten.

Pada fase kedua, perusahaan yang menjalankan pendekatan IMC akan mencari cara-cara untuk mengontak dan berkomunikasi dengan pelanggan lewat media baru dan cara yang lebih kreatif. Pada fase ini, integrasi di antara berbagai kontak ini harus dilakukan. Call center tidak akan efektif bila tidak diintegrasikan dengan kontak layanan lainnya seperti customer service, promosi, event atau aktivitas below the line lainnya.

Pada fase ketiga, penggunaaan teknologi infomasi dan customer database tidak dapat dielakkan lagi. Fungsi dari IMC lebih banyak untuk meningkatkan retensi dan cross-selling. Tanpa customer database, jangan harap perusahaan sukses memasuki IMC tahap ketiga ini. Kenyataannya, banyak perusahan Indonesia yang gagal dalam membangun customer database. Apa penyebabnya?

Enam Penyebab

Pertama, rendahnya kesadaran akan pentingnya customer database. Top Management tidak melihat bahwa membangun customer database adalah investasi yang penting. Ini bisa terjadi karena memang perusahaan belum melewati IMC fase pertama dan kedua. Mereka tetap saja mengandalkan iklan-iklan konvensional. Mereka tidak mencari media baru dan cara baru untuk berkomunikasi. Penggunaan IT dan internet sebagai pendukung untuk berkomunikasi masih kecil atau hampir tidak ada. Mereka telah gagal melihat kebutuhan pelanggan di masa mendatang.

Kedua, perusahaan tidak membangun customer database karena tidak memiliki strategi loyalitas pelanggan. Mereka mengandalkan pertumbuhan melalui akuisisi pelanggan baru. Orientasi seperti ini membuat perusahaan hanya melakukan banyak upaya untuk memperkuat tenaga penjualan, tetapi lemah dalam mempertahankan pelanggan. Tidak adanya strategi rentensi sudah pasti membuat perusahaan tidak pernah berpikir untuk membangun customer database yang memadai.

Ketiga, penyebab kegagalan perusahan dalam membangun customer database adalah karena budaya dan struktur organisasi yang tidak memadai. Perusahaan lemah dalam menciptakan budaya team work. Setiap divisi cenderung bekerja sendiri-sendiri. Perusahaan tidak memiliki sebuah proses yang mampu membuat antardivisi bekerja sama untuk menciptakan customer value.

Divisi pemasaran tidak mempunyai hubungan yang harmonis dengan divisi operasional dan divisi IT. Proses penciptaan customer database, yang sangat membutuhkan kerja sama yang erat di antara ketiga divisi ini, akhirnya tidak pernah terjadi. Divisi IT cenderung membangun sistem, hardware, dan software untuk kepentingan divisi keuangan dan operasional semata atau bahkan untuk mereka sendiri, bukan untuk divisi pemasaran. Atau sebaliknya, divisi pemasaran tidak mampu memberikan arah dan strategi yang jelas bagi divisi IT agar mau membantu mereka. Yang parah, bila kedua divisi ini kemudian tidak memiliki rasa saling percaya. Dalam derajat yang moderat, keengganan divisi IT disebabkan asumsi bahwa bagian pemasaran hanya memberikan tambahan pekerjaan bagi mereka.

Keempat, perusahaan tidak punya “blue print” atau konfigurasi dalam membangun database pelanggan. Kondisi ini paling mudah terlihat di perusahaaan-perusahaan kecil. Jangankan blue print, sering kali perusahaan juga tidak mengerti tentang data dan informasi yang harus dikumpulkan. Dalam bahasa teknis, perusahaan tidak mampu membuat field database. Mereka tidak mampu menjawab pertanyaan seperti: data demografi apa saja yang harus dikumpulkan; data transaksi apa saja yang harus masuk dalam database; dan data perilaku apa yang harus diperoleh dari pelanggan.

Kegagalan kelima berhubungan dengan kemampuan melakukan updating. Bebeberapa perusahaan sudah memulainya dengan baik. Mereka sudah mempersiapkan hardware dan software yang sangat memadai, tetapi kemudian tidak mempertimbangkan bagaimana melakukan updating. Data dan informasi yang baru tidak ter-update dengan baik. Ini bisa terjadi karena perusahaan tidak mempunyai komitmen yang tinggi untuk menyediakan tenaga yang cukup atau perusahaan tidak menyadari sebelumnya akan kecepatan perubahan data dan informasi yang mereka miliki.

Penyebab keenam atau terakhir berhubungan dengan penggunaan dari database itu sendiri. Perusahaaan sebenarnya memiliki customer database yang cukup baik. Jumlah data yang tersedia relatif lengkap. Problemnya, customer database tersebut tidak dianalisis secara periodik dan dimanfaatkan optimal oleh para marketer atau divisi lain. Akhirnya, banyak strategi dan keputusan yang dibuat oleh divisi pemasaran, justru tidak menggunakan database yang sudah mereka miliki.

Customer database hanya berguna apabila sudah dimanfaatkan. Jika tidak, data dan informasi yang tersimpan akhirnya tidak memberikan kontribusi terhadap pengembangan customer value. Saya yakin, berdasarkan pengalaman saya sebagai konsultan selama 15 tahun, perusahaan-perusahaan besar dari industri perbankan, asuransi, telekomunikasi, transportasi adalah sederet contoh bagaimana mereka telah gagal membangun customer database hanya karena tidak dimanfaatkan secara optimal. Jadi, setiap hari ada data baru yang dikumpulkan dan setiap hari data yang diperbaharui sebagai bagian pekerjaan rutin yang harus mereka lakukan, tetapi tidak jelas untuk apakah semuanya pada akhirnya.

Sekali lagi, kemenangan persaingan di masa mendatang, akan sangat tergantung dari kekuatan customer database yang dibangun oleh perusahaan. Demikian pula dalam hal komunikasi dan promosi. Perusahaan yang memiliki customer database yang baik, akan memiliki peluang untuk meningkatkan efektivitas komunikasi secara dramatis. Mereka berpeluang lebih besar dalam menciptakan loyalitas pelanggan dan sekaligus melakukan cross selling. Sudah saatnya, setiap perusahaan melakukan audit penyebab kegagalan dalam membangun customer database.

Amazon.com adalah bentuk perusahaan masa depan. Mereka memanfaatkan teknologi internet untuk membangun customer database dan berkomunikasi dengan para pelanggannya. Dalam survei American Customer Satisfaction Index (ACSI), perusahaan ini selalu mendapatkan skor jauh di atas rata-rata perusahaan lainnya. Mereka dapat memanfaatkan teknologi untuk berkomunikasi kepada individu-individu dengan sangat efektif.

Pelanggan puas karena mendapatkan informasi yang dibutuhkan dan sesuai dengan harapannya. Mengapa demikian? Mereka mengerti apa yang menjadi kebutuhan pelanggan dari perilaku transaksi di masa lalu. Amazon.com dapat melacak buku-buku apa saja yang dibeli setiap pelanggan, kapan dibeli dan berapa banyak pelanggan telah membeli dalam satu tahun. Saat dikirimi e-mail, pelanggannya langsung tertarik untuk merespons. E-mail yang dikirim, sudah didesain sesuai dengan kebutuhan mereka. Tidak mengherankan, pelanggan kemudian mulai membeli produk-produk lainnya. Perusahaan ini akan menjadi model perusahaan yang menjalankan IMC yang efektif karena kekuatan yang besar dari customer database yang mendekati sempurna untuk ukuran hari ini.

sumber : http://www.marketing.co.id/

Strategi Pemasaran Bisnis Makanan

Sewa Ruang Kantor Jakarta Murah dan Century 21 Broker Properti Jual Beli Sewa Rumah Indonesia - Dalam menjalankan bisnis, bukan cuma modal dan produk berkualitas saja yang dibutuhkan, tetapi aspek pemasaran juga sangat dibutuhkan agar bisnis yang dijalankan dapat menghasilkan omset sesuai target. Begitu juga dalam menjalankan bisnis makanan, adanya strategi pemasaran juga sangat berpengaruh terhadap omset yang diperoleh pelaku bisnis tersebut.

Bisnis makanan merupakan salah satu bisnis yang memiliki potensi cukup besar, sudah banyak pelaku usaha yang meraup untung dari usaha ini. Namun tidak sedikit pula pelaku usaha makanan yang gulung tikar alias bangkrut, karena strategi pemasaran yang digunakan kurang tepat. Untuk menghindari resiko bangkrut, karena adanya permasalah pemasaran usaha yang kurang tepat. Berikut kami berikan beberapa strategi pemasaran bisnis makanan yang dapat Anda coba :

Buatlah nama untuk bisnis makanan Anda semenarik mungkin
Sebelum Anda membuka usaha makanan, sebaiknya Anda sudah menyiapkan nama untuk usaha Anda. Pilih nama yang menarik, unik, dan mudah diingat oleh para konsumen. Karena nama usaha menjadi image yang akan tertanam pada konsumen, pentingnya brand 250x187 Strategi Pemasaran Bisnis Makanansehingga mereka mudah untuk mengingat usaha Anda. Disamping itu hal yang perlu diperhatikan ketika mencari nama usaha, sesuaikan nama dengan usaha yang Anda jalankan. Misalnya : “Warung Steak” untuk usaha makanan khusus steak,  ” Ramen” Japanese Noodle untuk bisnis makanan khas Jepang,  atau “Kedai Jamur” untuk usaha makanan khusus jamur. Nama usaha dapat Anda tempatkan di depan lokasi usaha dengan menggunakan neon box ataupun x – baner di depan lokasi usaha Anda. Agar konsumen yang kebetulan lewat, tertarik untuk mampir membeli produk makanan Anda.

Perkenalkan bisnis Anda pada masyarakat
Mulai sebuah pemasaran dengan mengenalkan bisnis Anda kepada masyarakat sekitar Anda. Dengan adanya pengenalan produk, masyarakat mengetahui apa kelebihan produk bisnis makanan Anda, harga makanan yang ditawarkan, serta pelayanan yang ditawarkan bisnis Anda kapada para konsumen. Untuk mengenalkan bisnis makanan Anda pada masyarakat, dapat dilakukan dengan membuat event dan mengundang masyarakat luas untuk berkunjung ke bisnis makanan yang Anda miliki. Selain itu pemasaran juga bisa dilakukan dengan mengambil karyawan lokal yang ada di sekitar lokasi usaha Anda, secara tidak langsung karywan Anda akan mempromosikan tempat kerja mereka kepada kerabat serta rekan mereka.

Berikan potongan harga untuk event – event tertentu
Memberikan potongan harga pada event – event tertentu seperti pada saat grand opening bisnis Anda, atau pada saat ulang tahun usaha tersebut. Selain itu Anda juga dapat memberikan paket harga khusus pada saat hari – hari terttentu, misalnya memberikan harga paket keluarga di hari – hari liburan, maupun hari raya seperti lebaran, atau tahun baru. Dengan adanya potongan harga menjadi daya tarik tersendiri bagi para konsumen untuk berkunjung ke usaha Anda. Anda dapat menggunakan brosur, pamflet, ataupun spanduk untuk mempromosikan potongan harga yang ditawarkan usaha Anda.

Membangun jaringan dengan usaha lain yang dapat mendukung bisnis Anda
Untuk membangun jaringan usaha memang tidaklah mudah, namun jaringan merupakan pemasaran yang sangat efektif. Mulailah dengan membuat jaringan usaha dengan rekan maupun kerabat dekat Anda yang memang bisa membantu Anda untuk mengembangkan bisnis. Cara membangun jaringan bisa dilakukan dengan memberikan test product pada rekan atau kerabat Anda. Misalnya bagi yang memiliki usaha warung bakso, Anda dapat mengajak rekan dan kerabat untuk berkunjung mencicipi bakso buatan Anda. Jika rekan dan kerabat Anda tertarik dengan produk bakso tersebut, mereka akan senang jika diajak untuk bekerjasama dengan usaha bakso Anda. Contohnya saja untuk rekan yang memiliki usaha catering, dapat bekerjasama untuk penyediaan bakso untuk usaha katering miliknya, selain itu untuk rekan yang memiliki usaha periklanan dapat menjalin kerjasama di bidang pemasaran melalui media. Begitu banyak peluang yang akan muncul, bila Anda memiliki jaringan usaha yang cukup luas.

Menciptakan inovasi pada menu – menu yang ditawarkan
Untuk menghindari kejenuhan konsumen, ciptakan inovasi pada menu – menu yang ditawarkan usaha Anda. Minimal 6 bulan sekali ciptakan menu baru pada usaha Anda. Banyaknya variasi menu yang ditawarkan, akan menjadi daya tarik tersendiri bagi usaha Anda. Misalnya usaha bakso,bisa diberikan inovasi dengan menambah menu bakso isi keju, bakso isi telur, bakso isi buah, hingga bakso ikan dan bakso udang. Menu yang bervariasi akan menarik minat masyarakat untuk mengunjungi warung usaha bakso Anda.

Meningkatkan kualitas pelayanan
Dalam memberikan pelayanan bagi para konsumen, sebaiknya perhatikan waktu penyajian makanan, kualitas cita rasa makanan serta kebersihan dan keamanan tempat usaha. Konsumen akan merasa tidak nyaman jika menunggu penyajian makanan yang terlalu lama, untuk itu usahakan untuk on time dalam memberikan pelayanan. Selain itu jaga kualitas cita rasa makanan yang diproduksi, sehingga konsumen tidak kecewa jika makanan yang mereka pesan ternyata tidak enak. Dan yang ketiga adalah jagalah kebersihan serta keamanan bisnis makanan Anda, sehingga konsumen yang makan ditempat Anda merasa nyaman dan senang untuk berkunjung kemabali ke usaha Anda.

Pada dasarnya pemasaran usaha sangatlah penting, untuk itu lakukan promosi usaha secara total pada usaha Anda. Baik dari mulai grand opening sampai bisnis makanan Anda sudah dapat berjalan, lakukan terus promosi dan pemasaran secara terus menerus. Jika perlu sisihkan 5 – 10 % omset Anda untuk biaya promosi dan pemasaran usaha.