Thursday, September 23, 2010

Hujan Harian di Bandung

Banjir dan longsor kerap terjadi lagi di Bandung dan sekitarnya selama beberapa pekan terakhir. Seperti diberitakan, longsor terjadi di beberapa wilayah di Bandung Barat (15/2) dan banjir telah merendam ribuan rumah di empat kecamatan (Baleendah, Dayeuhkolot, Bojongsoang, Rancaekek) selama dua pekan terakhir dengan ketinggian air sekitar dua meter (”PR”, 16/2). Hujan deras yang mengguyur kota Bandung setiap hari memang dapat menjadi ancaman serius bagi terjadinya bencana longsor dan banjir di wilayah dengan kontur topografi perbukitan dan daerah di sekitar bantaran sungai. 

Perilaku hujan harian di Bandung menjadi menarik untuk diamati. Itu karena selama dua pekan terakhir, pola hujan harian di Kota Bandung dan sekitarnya terbilang unik. Pada 1-5 Februari, hujan deras terjadi pada malam hari, dimulai pukul 19.00 WIB dan berakhir menjelang tengah malam (23.00 WIB). Kemudian, pola ini berubah. Pada 6-12 Februari, hujan deras berlangsung lebih awal, yakni sekitar pukul 16.30 WIB hingga menjelang waktu Isya sekitar 19.30 WIB. Pergeseran waktu hujan kembali terjadi sejak 13 Februari sampai pada saat tulisan ini dibuat (15 Februari). Apakah pola hujan harian ini, yang dalam ilmu meteorologi disebut dengan istilah siklus harian (diurnal cycle), akan kembali bergeser waktunya? Sebetulnya, apakah penyebab siklus harian semacam ini?

Siklus harian


Umumnya, hujan harian di wilayah Indonesia secara dominan dipengaruhi oleh aktivitas awan-awan konvektif yang berpeluang besar mendatangkan hujan deras di suatu tempat dalam waktu yang singkat (hujan konvektif). Lokasi strategis Indonesia yang berada di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik membuat pemanasan konvektif yang terjadi di atas Indonesia sangat kuat dan berperan dominan dalam memengaruhi sirkulasi atmosfer di negara-negara lintang menengah dan tinggi (Neale dan Slingo, 2003). Dua samudra besar tersebut, di tambah laut-laut kecil yang mengelilingi kepulauan Indonesia, telah membuat proses pemanasan atmosfer di atas wilayah Indonesia menjadi kompleks dan tidak seragam.


Hujan harian terjadi karena ada perbedaan proses pemanasan antara daratan dan lautan. Terbentuknya hujan harian bahkan secara sederhana dapat dikaitkan dengan peristiwa pembentukan angin darat (malam hari)  dan angin laut (siang hari) yang terjadi setiap hari. Dalam kaitan itu, pembentukan awan pada awalnya terjadi di atas lautan sebab di sanalah terdapat persediaan air terbesar sehingga penguapan terbanyak pun terjadi di atas lautan.

 Awan-awan yang terbentuk di atas lautan inilah yang perlahan-lahan berarak menuju daratan dan terjadilah hujan. Hujan yang terjadi setiap hari, karena pengaruh perbedaaan pemanasan di atas lautan dan daratan serta pengaruh topografi di suatu wilayah inilah yang disebut siklus harian curah hujan. 

Lalu bagaimana dengan siklus harian untuk wilayah Jawa Barat (termasuk Bandung)? Pada jam berapakah hujan harian akan terjadi di wilayah tersebut? Berdasarkan penelitian menggunakan data curah hujan satelit TRMM yang dilakukan oleh M. Hara dkk. (2009) dapat disimpulkan bahwa siklus harian atau hujan maksimum di Jawa Barat (termasuk Bandung) akan terjadi pada sore sampai malam hari, yaitu sejak pukul 15.00 WIB hingga 20.00 WIB..


Hujan yang terjadi pada sore hingga malam menunjukkan bahwa suplai awan-awan yang terbentuk di atas lautan pada siang hari membutuhkan waktu untuk berpindah ke atas daratan dan berproses menjadi awan yang matang.

 Siklus harian ini, pada musim hujan (Desember-Januari-Februari) dipengaruhi oleh awan-awan yang terbentuk di Samudra Hindia yang bergerak menuju ke timur karena dorongan angin monsun barat yang kuat. Meskipun demikian, untuk kasus lokal Bandung, topografi wilayah cekungan Bandung  yang dikepung oleh deretan pegunungan turut memengaruhi siklus harian ini sehingga sering kali hujan yang turun di cekungan Bandung juga merupakan hujan orografis (hujan yang berasal dari kumpulan awan di atas pegunungan). Pergeseran waktu terjadinya hujan yang cukup konsisten sejak pekan pertama Februari yakni malam hari, kemudian pekan kedua sore hari, dan pekan ketiga siang hari, menunjukkan fenomena perambatan gelombang di  atmosfer, yang dapat kita amati secara fisik sebagai perambatan awan. Sebagaimana bentuk gelombang sinusoidal yang memiliki puncak dan lembah, peristiwa hujan merupakan perwujudan dari puncak gelombang. Karena ada pergeseran fase gelombang, pergeseran waktu hujan pun terjadi. Pergeseran waktu hujan ini tampaknya terkait dengan pola angin monsun yang juga berubah dari hari ke hari selama bulan Februari.

Monsun musim hujan


Pada Februari, seharusnya angin monsun yang bertiup di atas wilayah Indonesia merupakan angin monsun barat yang kuat. Angin barat yang kuat ini terjadi karena pengaruh angin monsun musim dingin dari Benua Asia yang bertiup dari utara menuju pusat tekanan rendah di sekitar Australia (yang sedang mengalami musim panas), melewati kepulauan Indonesia. Monsun barat tersebut sekaligus menjadi ciri khas angin pada musim hujan.


Namun ternyata, berdasarkan pengamatan terhadap kondisi angin monsun harian yang dirilis International Pacific Research Center, Hawaii, tampak bahwa pola angin monsun barat di atas Pulau Jawa mengalami perubahan yang konsisten dari waktu ke waktu.  Angin monsun yang bertiup di atas Pulau Jawa selama Februari yang diamati pada level ketinggian 850 milibar atau sekitar 2 kilometer dari permukaan air laut rata-rata (Mean Sea Level) selama bulan Februari menunjukkan bahwa angin monsun barat kuat terjadi sejak 1 sampai 5 Februari.


Setelah itu, pola angin berubah menjadi angin utara yang cukup kuat di atas Selat Sunda dan laut Jawa, sementara di atas pulau Jawa bertiup angin timur yang lemah. Angin timur ini, meskipun lemah, menjadi penanda semakin berkurangnya pengaruh konveksi di atas Samudra Hindia serta melemahnya pengaruh monsun musim dingin dari Asia. Apabila perubahan pola angin (dari angin barat menjadi angin timur) ini secara konsisten terjadi hingga akhir Februari, pada Bulan Maret terdapat peluang yang cukup bahwa Jawa Barat akan memasuki musim peralihan. Ini artinya, intensitas dan volume hujan akan berkurang saat memasuki awal Maret.

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com

4 comments:

  1. yg perlu dibenahi tata kotanya kali ya...
    jangan sampai tanah resapan air habis untuk bangunan semua.

    ReplyDelete
  2. Kota saya jg sring hujan, Mudaha2n ini semua tidak berdampak buruk

    ReplyDelete
  3. Makin berkembang dah buat bandung,,,

    ReplyDelete

Saya sangat menghargai Anda yang bersedia berkomentar di setiap postingan bolehngeblog